Jumat, 10 November 2017

Gambino Coffee, Kafein Tinggi untuk Pelari

Kopi dan lari. Dua hal yang berbeda. Kopi jenis minuman, yang mengandung kafein sedangkan lari aktivitas olahraga. Apa yang bisa menghubungkan kopi dan lari? Bagi penggemar lari, ada yang menjadikan kopi sebagai sebagai “suplemen”.

Kini ada Gambino Coffee, minuman kopi siap saji (ready to drink) yang merupakan spesialis di bidang cold brew coffee. Proses cold brew merupakan proses penyeduhan dengan menggunakan air dingin selama 12 sampai 24 jam. “Proses penyeduhan dengan metode cold brew ini menghasilkan minuman kopi dengan beberapa keunggulan, antara lain memiliki tingkat keasaman hingga 67% lebih rendah dibandingkan dengan hot brew coffee, dan memiliki kandungan kafein lebih tinggi,” ujar Wenti Rasjid, Direktur Gambino Coffee.

Ia menambahkan kafein merupakan stimulan alami (natures stimulant) bagi fungsi otak yang dapat meningkatkan fokus dan konsentrasi. Karena itu Gambino Coffee sangat tepat dikonsumsi oleh orang-orang dengan aktivitas tinggi, contohnya orang kantoran. Gambino Coffee juga tepat dikonsumsi oleh para penggemar olahraga, khususnya endurance sport seperti lari maraton, karena dapat menjaga kebugaran dan meningkatkan kinerja fisik selama berolahraga.

“Penelitian juga menyatakan bahwa kafein dalam kopi akan membantu proses pemulihan pascaolahraga serta mengurangi kemungkinan cedera otot pada saat olahraga. Gambino Coffee memiliki varian yang sangat cocok dikonsumsi oleh para atlet yaitu Ammo. Ammo merupakan minuman kopi dalam volume yang lebih kecil, namun dapat meningkatkan energi dan fokus, Ammo juga aman untuk lambung, karena memiliki tingkat keasaman hingga 67% lebih rendah dibandingkan dengan hot brew coffee,” jelasnya.

Konsep penjualan yang diusung oleh Gambino Coffee adalah Grab n Go, sehingga Gambino Coffee sangat cocok untuk dinikmati oleh orang-orang dengan jadwal kesibukan yang padat. (Ngurah Budi)

Kamis, 09 November 2017

Nasir Mattusin: Bekerja Itu Belajar yang Dibayar

Memiliki latar belakang pendidikan non perhotelan namun berkarier di dunia perhotelan dan memegang jabatan tertinggi di hotel. Inilah sosok M. , GM Aston Solo Hotel. Pria kelahiran Meranjat, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, 31 Mei 1957 ini juga dikenal sebagai da’i dan motivator.

“Latar belakang pendidikan saya madrasah dan IAIN. Waktu SMP saya sudah mengajar bahasa Arab dan bahasa Inggris. Saya intinya senang belajar dan yakin kalau kita mau belajar pasti bisa. Tempat belajar bisa dimana saja,” ungkapnya.

M. Nasir Mattusin
Nasir membuktikan keyakinannya saat mengikuti magang kerja di hotel. Ia mengambil tiga shif dalam sehari. Tujuannya bukan materi, tetapi pengalaman. Banyak hal yang bisa ia pelajari dan bisa dijadikan bekal untuk mencapai level berikutnya. Selain itu kegemarannya membaca dan berdiskusi menambah wawasannya.
Kariernya di dunia  perhotelan mulai dari menjadi resepsionis di hotel Swarna Dwipa, Palembang tahun 1980. Dua tahun kemudian ia menjadi Front Office Manager Hotel Dena Bengkulu lalu Manajer Hotel Pantai Nala Bengkulu tahun 1989. Dari Bengkulu, pria yang gemar bermain tenis meja dan bola boli ini menjadi Asisten Manajer Sheraton Lampung sejak 1990.

Kariernya di Sheraton Lampung terus menanjak. Ia sempat menduduki jabatan Front Office Manager, Sales Manager, Hotel Manager hingga General Manager. Nasir merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi GM di grup hotel Sheraton. Prestasinya yang lain menjadi pengumpul membership Sheraton terbanyak di dunia dan ia pun dianugerahi penghargaan best of the best.

Dari Lampung, Nasir “terbang” ke Jakarta tahun 2003 menjadi Acting General Manager Sheraton Media Jakarta lalu Executive Assistant Manager Sheraton Bandara Jakarta hingga 2004. Dari Ibu Kota, kariernya menjelajahi Kota Gudeg. Penghobi mincing ini menjadi General Manager Sheraton Mustika Yogyakarta Resort & Spa sampai tahun 2008.

“Saat di Yogyakarta saya punya pengalaman berkesan. Hari Jumat sebelum kejadian gempa Bantul tahun 2006, saya jadi khatib saat shalat Jumat di halaman hotel. Saat itu saya katakan, bencana alam bisa terjadi kapan saja kalau Tuhan sudah murka. Manusia tidak pernah tahu. Usai Jumatan, saya ke bandara tanpa persiapan. Saya pulang ke Lampung karena keluarga di Lampung. Keesokan harinya terjadi gempa bumi. Jaringan komunikasi sulit. Anak buah saya bingung, mereka tidak tahu saya ada di mana. Untungnya ada yang berhasil menghubungi saya. Saya bilang saya di Lampung dan akan balik ke Jogja,” kenangnya.

Sampai di Yogyakarta, Nasir bersyukur karena tidak ada staf hotel maupun tamu hotel yang terluka. Semua berhasil dievakuasi dengan cepat. Hanya ada beberapa kerusakan di bangunan hotel. Demi keamanan, staf dan tamu tidur di depan hotel. Kerja keras tim Sheraton Mustika Yogyakarta diganjar penghargaan oleh media Strait Times karena berhasil menyelamatkan tamu-tamu hotel.

Perjalanan karier Nasir berlanjut ke Bandung dari tahun 2008 hingga 2012. Ia menjadi General Manager Aston Tropicana Hotel & Plaza Bandung. Sejak 2013, pria yang juga senang mengajar dan menjadi motivator ini menjadi General Manager Aston Solo.

Hotel Aston Solo
“Jadi bos tidak boleh hanya duduk saja, harus jalan. Bos juga harus siap dibenti kalau menegakkan kebenaran. Kalau instruksi ya harus dikerjakan, tidak ada ruang diskusi. Kalau marah, marah yang ikhlas seperti marah kepada anak. Sebagai pimpinan juga harus bisa mengombinasikan antara memimpin dengan hati dan memimpin dengan kekuasaan. Kalau memimpin dengan hati saja, pemimpin akan lemah. Kalau memimpin dengan kekuasaan, pemimpin jadi otoriter,” ujar pria yang memiliki moto love  and care ini.
Sebagai GM, Nasir sadar dengan tanggung jawab dan amanah ini. Karenanya ia terus belajar. Baginya bekerja itu belajar yang dibayar. Orang yang bisa hidup adalah orang yang mau bekerja. Bekerjanya harus total dan tuntas.

JAGA BUDAYA
Terkait dengan perkembangan pariwisata saat ini, Nasir mengakui ada perubahan yang signifikan. Dulu, orang yang bekerja di sektor pariwisata khususnya perhotelan dipandang sebelah mata. Namun, seiring perkembangan, sektor pariwisata menjadi sektor unggulan karena tak akan habis. Sekarang tergantung bagaimana komponen pariwisata dan masyarakat saling bersinergi menjaga budaya.

Ia pun mengagumi Bali yang sudah terkenal di dunia pariwisata. Nasir kagum dengan alam Bali yang indah. “Kondisi masyarakat Bali yang majemuk dan memiliki toleransi beragama yang kuat, menjadi kekuatan Bali untuk selalu diingat wisatawan. Selain itu, manusia Bali pun masih teguh memegang adat istiadatnya,” tegasnya.

Nasir juga mengingatkan agar masyarakat Bali maupun Indonesia bisa menjaga keaslian Bali. "Bali itu kalau untuk keindahan alam dan budayanya tidak kalah dengan Malaysia dan Thailand. Malah lebih unggul," katanya. Kekuatan Bali itu harus bisa dijaga sehingga wisatawan tidak meninggalkan Bali. "Bali itu, kalau kita ada di acara-acara internasional, pasti selalu menjadi kebanggaan pelaku pariwisata. Ibaratnya Bali merupakan ikonnya pariwisata nasional," ungkapnya.

Nasir dan keluarga Ngurah Budi
Sebagai praktisi pariwisata, ia melihat ada tiga masalah yang dinilainya masih menjadi persoalan di Bali. Pertama, soal sampah. Perlu ada penanganan yang segera untuk persoalan sampah agar Bali tetap menjadi sebuah destinasi pilihan wisatawan. Kedua, soal kemacetan. Sejumlah jalan-jalan menuju objek wisata di Bali mengalami kemacetan, terutama pada saat libur panjang. Kondisi ini pun, perlu dicarikan solusi sehingga Bali tetap nyaman dikunjungi. Ketiga, menyangkut pewarisan budaya ke generasi muda. Generasi muda harus lebih peduli dengan budaya atau tradisi. Kalau diabaikan, 20-30 tahun ke depan kebudayaan akan hilang. (Ngurah Budi)

"Nglawang" bikin "Liang"



Salah satu hiburan yang dinantikan anak-anak saat Hari Raya Galungan dan Kuningan adalah barong yang nglawang (keliling). Kini yang banyak nglawang adalah seka barong anak-anak. Dalam sehari, bisa ada tiga seka barong yang datang.

“Dari sore sampe petang, sudah ada tiga barong yang datang ke rumah. Mereka saya foto dan videokan untuk diunggah ke medsos biar teman-teman lain juga bisa nonton barong nglawang,” ujar Ata. Seka barong anak-anak ini berasal dari Banjar Samu, Banjar Lambing, dan Banjar Tingas yang berada di wilayah Desa Mekar Bhuana, Abiansemal, Badung.

Wah Gilang, salah satu anggota seka barong menuturkan ia dan teman-temannya nglawang untuk membuat masyarakat liang (gembira). “Kami keliling di seputaran desa saja. Menghibur masyarakat. Anggota seka giliran menari dan menabuh. Semua multitalenta,” ungkapnya.

Uang yang dihasilkan dari nglawang ini dikumpulkan lalu dibagi untuk pemilik barong dan untuk anak-anak yang jadi anggota seka. “Bagi anak-anak, bukan uang yang mereka kejar. Yang penting mereka bisa menyalurkan bakat seni dan menghibur masyarakat. Keberanian mereka untuk tampil di depan umum juga perlu mendapat apresiasi,” kata Ngurah Wijaya, ayah Wah Gilang.

Anak-anak nglawang
Menurut Kadek Suartaya nglawang memiliki makna melanglang lingkungan. Pada awalnya nglawang adalah sebuah ritus sakral magis yang disangga oleh psiko-relegi yang kuat. Benda-benda keramat seperti barong dan rangda misalnya diusung ke luar Pura berkeliling di lingkungan banjar atau desa yang dimaknai sebagai bentuk perlindungan secara niskala kepada seluruh masyarakat. Kehadiran benda-benda yang disucikan itu ditunggu dan disongsong dengan takzim oleh komunitasnya. Penduduk yang dapat memungut bulu- bulu barong atau rangda yang tercecer, dengan penuh keyakinan, menjadikannya obat mujarab atau jimat bertuah.

“Tradisi nglawang dalam konteks sakral magis sebagai persembahan penolak bala itu juga bermakna sama pada pentas nglawang Galungan. Namun dalam perjalanannya, masyarakat Bali yang kreatif tak hanya nglawang mengusung benda-benda sakral namun dibuat tiruannya untuk disajikan sebagai nglawang tontonan. Dalam tradisi nglawang Galungan tersebut, bentuk-bentuk seni balih-balihan seperti arja, janger, atau joged misalnya juga dapat disaksikan masyarakat sebagai hiburan. Masyarakat yang haus hiburan menstimulasi pentas nglawang menjadi wahana berkesenian yang konstruktif dan apresiatif,” ujar dosen ISI Denpasar yang juga pengamat seni ini.


Sebagai seni tontonan, nglawang adalah suguhan seni pentas yang serius tapi juga santai. Untuk mengapresiasinya penonton tidak harus duduk kaku, namun bisa jongkok, berdiri atau bergelayutan, bersentuhan dan bergesekan sembari menikmati alam bebas. Hampir tak ada jarak antara pelaku seni dengan penonton, semua lebur dan menyatu. Kehadiran seni pentas ini tidak terikat oleh tempat, ruang dan waktu. (Ngurah Budi)

Omah Lowo: Rumahnya Kelelawar Solo

Surakarta atau yang lebih dikenal dengan Solo memiliki banyak bangunan peninggalan bersejarah. Salah satunya Omah Lowo. Omah artinya rumah sedangkan Lowo artinya kelelawar. Omah Lowo merupakan sebuah rumah di ujung Jalan Slamet Riyadi dan Jalan Perintis Kemerdekaan, Solo.

Omah Lowo
Rumah bergaya klasik ini menjadi sarang kelelawar. “Kalau pagi sampai sore, hanya terdengar suara kelelawarnya saja. Tetapi, petang hari, saat kelelawar keluar dari Omah Lowo, akan terlihat ribuan kelelawar terbang mencari makan,” ungkap Virginia Anggistania, Public Relations Officer Aston Solo, hotel yang berhadapan dengan Omah Lowo.

Perempuan yang akrab disapa Nia ini menuturkan pemandangan kelelawar terbang di petang hari menjadi atraksi yang menarik bagi tamu hotel Aston. Ada tamu yang menonton dari kamar hotel, lobi hotel, dan dari kolam dan restoran yang berada di lantai 6.

Dari referensi yang ada, Omah Lowo merupakan rumah seluas 1.500 meter persegi di lahan seluas 3.000 meter persegi itu peninggalan Belanda pada abad ke-19. Terakhir, rumah tersebut dihuni saudagar bernama Sie Djian Ho beserta keluarganya di tahun 1945. Sie Djian Ho merupakan pemilik pabrik es, penerbitan, dan perkebunan.

Pada masa peperangan, Omah Lowo sempat menjadi basis persembunyian tentara Indonesia saat Belanda dan Inggris. Rumah ini juga pernah menjadi gedung veteran, lalu menjadi kantor haji dan kamar dagang Kota Surakarta pada tahun 1980-an.“Saat Pak Jokowi menjadi Walikota Surakarta sudah ada rencana untuk membeli Omah Lowo. Kini status Omah Lowo termasuk cagar budaya,” imbuh Nia. (Ngurah Budi)

Minggu, 24 Januari 2016

Mustofa Romdloni: Harus Sering "Sharing"



Keberadaan komunitas Tangan di Atas (TDA) makin eksis. Komunitas yang terdiri dari para entrepreneur ini terus mengembangkan jangkauan dengan tujuan mewadahi para wirausahawan muda. Harapan pun ditanamkan Mustofa Romdloni, Presiden TDA.
TDA awalnya merupakan milis yang memiliki anggota sekitar 20 ribuan. Mayoritas berada di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Perkembangannya pun makin pesat dan kini sedang dilakukan pendataan berapa yang masih aktif.
"Ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai dengan pembentukan TDA, yakni wirausahawan muda bisa belajar  tentang bisnis, marketing, legalitas usaha dari anggota yang lain (lesson), wirausahawan muda bisa melakukan tindakan setelah belajar dan berbagi dengan anggota yang lain dalam bentuk bazaar dan mentoring (action), dan wirausahawan  muda bisa memperoleh pengakuan terkait usahanya (recognition). Jadi TDA ini rumah bersama untuk tumbuh,” tegas Mustofa yang menjadi Presiden TDA periode 2015-2017 ini.
Ia menambahkan pertumbuhan yang diharapan sesuai dengan jenjangnya. Misal dari usaha kecil menjadi usaha menengah kemudian usaha besar. Semua itu bisa dipelajari dalam TDA. Kebersamaan ini bukan sekadar kumpul dan ngobrol, tetapi diwujudkan dalam bentuk kegiatan bermanfaat. Agar bisa sukses, ia memberikan kiat, harus sering sharing.
Sejak tahun 2013 TDA menyelenggarakan Pesta Wirausaha di sejumlah kota. Untuk tahap awalnya, Pesta Wirausaha digelar di 10 kota. Pada 2015, lanjutnya, TDA mengadakan kegiatan ini di 22 kota termasuk di Denpasar. Rencananya pada Mei 2016, sebuah kegiatan berskala nasional yaitu Pesta Wirausaha Nasional digelar di Jakarta. Salah satu agendanya “Meet The Investor”.
Presdir MR Corp ini pun menegaskan inspirasi bisnis bisa didapatkan dimana saja. Bagi anggota senior wajib membantu juniornya. Bantuan ini bisa berupa peluang kerja sama. “Kalau hal besar dilakukan sendiri, mungkin berat rasanya. Tetapi kalau dikerjakan bersama-sama, akan terasa ringan,” ujar pria asal Boyolali, Jawa Tengah ini.
Ia juga menegaskan era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tidak perlu ditakuti. Sarjana Teknik Kimia lulusan Universitas Diponegoro, Semarang ini mengatakan kalangan wirausaha Indonesia siap bersaing asalkan bisa meningkatkan kapabilitas. Visi dan misi bisnis harus jelas, segmentasi produk harus jelas dan pemasaran baik offline maupun online juga harus jelas. “Jangan anggap orang lain atau negara lain musuh, tetapi buat jaringan dengan mereka,” ujarnya.
Mustofa pun mengingatkan masyarakat agar makin mencintai produk buatan Indonesia. Jangan hanya bicara saja cinta produk Indonesia tetapi membeli barang produk luar negeri. Itu artinya antara apa yang diucapkan beda dengan yang dilakukan.
Pesatnya perkembangan e-commerce juga menjadi peluang untuk memperluas pemasaran. Banyaknya aplikasi e-commerce mempermudah wirausahawan muda untuk mempromosikan maupun menjual produk yang dihasilkan. –Ngurah Budi

Perhatikan Sisi Agresivitas Anak



Main tembak-tembakan sering dilakukan anak-anak. Zaman dulu, anak-anak bermain dengan senjata dari pelepah pisang. Zaman sekarang, senjata plastik banyak dijual di toko mainan. Mengapa bermain tembak-tembakan digemari anak-anak dan apa yang harus dilakukan orangtua?
Pulang sekolah, Bisma, Nanda, dan beberapa temannya menunggu jemputan. Mereka lalu  bermain perang-perangan di halaman sekolah. Senjatanya bukan pistol, tetapi penggaris dan botol air mineral yang dipegang layaknya pistol. Mereka membagi diri menjadi dua kelompok. Satu kelompok sebagai “aparat keamanan”, satu kelompok sebagai “penjahat”.
Apa yang mereka mainkan ini terinspirasi dari tayangan teror Sarinah, Jakarta. Gencarnya pemberitaan khusus di media elektronik membuat anak-anak ini menjadikan peristiwa tersebut sebagai media permainan. “Dar..dar..dar…kamu kena,” ujar Nanda kepada salah satu temannya. Ternyata anak yang “kena tembak” itu pasrah dan menerima konsekuensi dirinya sudah kena. Setelah semua “penjahat” tertembak, mereka berkumpul lagi dan bertukar peran.  
Bermain “perang-perangan” tidak hanya dilakukan dalam permainan nyata. Ada juga anak-anak yang menggemari permainan di video games maupun gadget. Mereka sigap dan mahir memainkan peran sebagai penumpas kejahatan. Beberapa games menampilkan visual berupa pelaku yang tertembak dan mengeluarkan darah. Atau, si penumpas kejahatan yang malah kena tembak.
“Anak-anak sekarang sangat canggih bermain games perang-perangan. Kalau kalah masih bisa main lagi sampai menang. Ini membuat anak-anak ketagihan. Uang saku bisa habis di rental PS atau warnet bahkan untuk beli pulsa,” ungkap Bu Ria yang anaknya dulu sempat ketagihan main PS.
Apa yang dilakukan anak-anak, dari sisi psikologi merupakan fase peniruan. “Anak-anak merupakan peniru ulung. Apa yang dilihat di media elektronik khususnya bisa ditiru. Mereka terpapar secara visual. Apa yang dilihat keren langsung menjadi idola. Itulah yang tertanam di memori mereka,” ujar Retno I G. Kusuma, Kepala Sub Unit Psikologi Rehabilitasi Medik RS Sanglah.
Fase peniruan yang dilakukan anak ini juga menunjukkan sisi agresivitas anak. Jika agresivitas ini berlebihan, orangtua harus introspeksi. Bisa jadi, anak merasa tertekan karena orangtua terlalu otoriter atau orangtua sering bertengkar. Anak tidak bisa menyalurkan emosi secara nyata, sehingga melampiaskan melalui permainan melalui PS maupun gadget. Anak-anak merasa tidak berdaya di dunia nyata. Karena itu mencari pelampiasan dengan main games kekerasan sehingga bisa memukul dan menembak sesuka hati.
Pengaruh lingkungan juga tidak bisa diabaikan. Lingkungan yang menggemari games juga bisa membuat anak-anak terpengaruh. Banyaknya tempat penyewaan juga mempermudah akses mereka bermain.  “Dulu, anak-anak bisa bermain perang-perangan dengan pelepah pisang. Mereka bermain kolektif dan menunjukkan kreativitas dalam bentuk “senjata”. Sekarang susah menemukan yang seperti ini,” ungkap Ketua YPAC Bali ini.


BERMAIN TEATER
Retno melihat ada sisi positif yang bisa dikembangkan dari kegemaran anak bermain perang-perangan. Orangtua bisa menyalurkan bakat anak ke bidang olahraga bela diri. Hal ini dibarengi dengan pemahaman tentang pentingnya bela negara. Siapa tahu, ini bisa menjadi dasar bagi anak untuk memilih profesi sebagai tentara atau polisi. Bagi guru juga harus kreatif dalam mengemas isu aktual menjadi media pembelajaran bagi anak.
“Anak-anak bisa diajak bermain peran, ada yang menjadi tokoh baik ada yang menjadi tokoh jahat. Materinya mengacu dari peristiwa actual. Buat skenario lalu sisipkan pelajaran budi pekerti, PPKn, bahkan bahasa Indonesia. Kemas dalam bentuk teater. Anak-anak akan lebih mudah memahami kalau diajak bermain peran. Bermainnya bisa di kelas, bisa di aula, atau di halaman sekolah,” jelas Manajer Rumah Singgah Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Bali ini.
Karena bermain itu memerlukan tempat, pemerintah juga harus terlibat. Salah satunya dengan memberi syarat sekolah harus memiliki ruang terbuka sebagai tempat bermain dan beraktivitas. Permainan yang dilakukan anak-anak ini juga membuat anak belajar berkoordinasi dan melatih kecerdasan emosional mereka. –Ngurah Budi

Jumat, 22 Januari 2016

Orangtua boleh Masuk, Tamu hanya di "Foyer"



Miris hati dan meringis akal pikiran kita, menalar ledakan bom bunuh diri dan aksi tembak-menembak di Sarinah, Kamis (14/1). Kejadian ini pun dibahas dalam family discussion time SD dan SMP Cendekia Harapan, Jimbaran.
Berbagai peringatan diberikan bagi tempat-tempat publik di Jakarta dan Bali, yang banyak dihuni “orang bule” yang relatif empuk menjadi sasaran kelaknatan suatu tujuan. Tentu hal ini membuat hati menjadi was-was tidak hanya bagi WNA yang berada di Jakarta dan Bali, para wisatawan tetapi juga WNI di kedua kota tersebut, karena tak jarang turut menjadi korban sampingan dari target sasaran, seperti yang terjadi pada Bom Bali 2012. Berbagai tempat publik pun menyiasati peningkatan keamanan bagi para pengunjung dengan berbagai pengecekan.
“Suatu tempat publik yang mungkin tak banyak dipikirkan akan menjadi sasaran tetapi sepatutnya bersiap diri dengan optimal adalah sekolah. Tayangan-tayangan luar negeri tak jarang menceritakan ancaman bom di suatu sekolah yang kemudian menyebabkan siswa diliburkan, dan kebanyakan berakhir dengan diketahui bahwa itu adalah sekadar hoax,”ungkap Dr. Lidia Sandra, M.Comp.Eng.Sc, pengelola SD dan SMP Cendikia Harapan.




Ia mengamati di Indonesia dalam lima tahun terakhir ini, setidaknya ratusan sms diterima oleh orangtua murid di berbagai kota, khususnya kota-kota besar. Modusnya menginfokan bahwa anak orangtua A misalnya mengalami kecelakaan di sekolah, dan meminta orangtua untuk mentransfer sejumlah uang untuk biaya pengobatan di rumah sakit. Yang sangat mengerikan kebanyakan penelepon menelepon rumah dan mengatakan dengan detail kejadian di mana dari bagian sekolah di mana kecelakaan terjadi (semisal di bawah tangga). Ini menunjukkan seolah-oleh sang penelepon yang penipu mengetahui persis keadaan sekolah, nama lengkap anak, orangtua dan guru.
“Setidaknya lima kali hal itu terjadi tahun lalu di 2015. Jika sebuah sekolah kecil yang bersiswakan sekitar 250 siswa mengalami itu, bagaimana dengan sekolah yang ribuan jumlah muridnya. Tampak penelepon sang penipu itu tahu betul letak geografis segala benda di sekolah,” ujarnya tentang pengalaman sekolah yang berlokasi di Puri Gading, Jimbaran ini.
Sebagai langkah penanganan, pencegahan dan peningkatan antisipasi kejadian serupa atau lebih buruk, Sekolah Cendekia Harapan mengimplementasikan fingeprint secure access di titik-titik masuk sekolah. Hanya anak dan orangtua yang dapat memasuki area sekolah, sedangkan tamu hanya dapat berada di area tamu (foyer) sehingga dapat dipastikan jika bukan orangtua siswa, pasti tidak mengetahui berbagai letak peralatan atau ruangan di dalam sekolah.
Orangtua dan siswa bebas masuk kapan pun. Di parent’s lounge pun tersedia CCTV untuk bagian dalam sekolah sehingga merasa bahwa sekolah ini adalah rumah kedua mereka. Tiap saat orangtua dapat masuk ke kelas anak, dipersilakan mengamati proses pembelajaran bahkan turut serta berpartisipasi menjadi guru.

GUNAKAN NOMOR TELEPON SEKOLAH
Melangkah lebih jauh lagi dengan menggunakan teknologi fingerprint yang terkoneksi dengan modem dan handphone sekolah, notifikasi terkirim otomatis kepada orangtua saat anak masuk dan keluar dari area sekolah sehingga orangtua betul-betul merasa aman dan nyaman dan tidak mungkin dapat percaya pada telepon atau sms penipu. Sekolah juga menerapkan regulasi, pertolongan pertama setiap kali ada kecelakaan, semua guru dan karyawan tersertifikasi First Aid Professional Treatment dan langsung menelepon orangtua, sehingga nomor telepon selain nomor telepon sekolah tidak mungkin akan menghubungi orangtua jika anak yang mengalami kecelakaan.
Lingkungan yang aman tidak hanya mengenal ancaman dari luar tetapi area-area tajam misalnya di daerah preschool patut dihindarkan. Baik dari lingkungan yang kita sebut sebagai prepared environment yaitu bahwa semua peralatan di sekeliling anak-anak patutlah aman dan sesuai dengan usia mereka baik ketinggian, kegunaan maupun kekompleksan penggunaan peralatan.
“Selain itu faktor sangat besar lainnya yang mendukung keamanan dan kenyamanan anak dan orangtua di sekolah adalah jalur komunikasi yang sangat intensif lewat whatsapp maupun sms mengenai apapun keadaan yang terjadi pada anak dari pihak sekolah,” ujar Lidia.
Sebagai rumah kedua bagi anak-anak didik, adalah kewajiban semua sekolah untuk menjamin keselamatan, keamanan dan kenyamanan anak-anak didik tersebut. Berbagai peralatan teknologi hanyalah sarana pendukung bagi prepared environment, guru dan karyawan yang betul-betul menjadi orangtua kedua untuk menjamin keamanan dan kenyamanan anak. Kolaborasi orangtua dan guru hanya optimal saat tercipta saling kepercayaan baik dari segi keamanan, kenyamanan dan kerja sama yang aktif.  Pelatihan berkala terhadap bencana alam seperti banjir, gempa dan kebakaran pun dilakukan secara berkala setiap tahunnya baik untuk anak 1,5 tahun- 14 tahun di lingkungan Cendekia Harapan untuk menjamin anak-anak dan semua warga sekolah siap dengan keadaan darurat apapun.
“Di dunia yang makin serba tidak pasti ini, keamanan dan kenyamanan tak ternilai. Nyawa menjadi taruhan, uang dapat hilang dalam sekejap. Raga manusia berharga setara dengan jiwanya, tak dapat dibayar dengan asuransi atau security fund apapun,” tegas Lidia yang juga pengajar matematika dan psikologi ini. –Ngurah Budi